G
N
I
D
A
O
L

Bukan Sekadar Bermain! Outbound PKBM Lentera Nusantara di Tanaka Waterfall Ubah Permainan Menjadi Pelajaran Hidup

Malang — Suasana berbeda mewarnai kegiatan Outing Class PKBM Lentera Nusantara ketika warga belajar mengikuti kegiatan outbound di Tanaka Waterfall, Desa Bangelan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Minggu (13/9/2026). Berangkat dari PKBM Lentera Nusantara pukul 07.30 WIB, rombongan tiba sekitar pukul 08.30 WIB. Setelah mengisi daftar hadir dan panitia mempersiapkan berbagai perlengkapan permainan, kegiatan resmi dimulai pukul 09.00 WIB. Bukan sekadar mencari kesenangan di tengah suasana alam, kegiatan tersebut dirancang menjadi ruang belajar yang menggabungkan persahabatan, kerja sama, kekompakan, kepedulian, strategi, hingga refleksi kehidupan.

Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipandu Siska, alumni PKBM Lentera Nusantara tahun 2024. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Khoirul Anwar selaku Ketua Yayasan Puspa Sada Setara dan Kepala PKBM Lentera Nusantara Dwi Rana Nabillah. Dalam sambutannya, Anwar menegaskan bahwa outbound tersebut merupakan bagian dari upaya mempererat persahabatan dalam komunitas warga belajar. Berbagai permainan sengaja dirancang untuk membangun team building, team work, kekompakan dan kepedulian. “Tidak ada niatan untuk melakukan bullying. Semuanya murni bermain sambil belajar,” tegas Anwar. Sementara itu, Nabillah mengajak seluruh warga belajar menikmati kegiatan dengan penuh antusias. Menurutnya, kegiatan tersebut telah dirancang jauh-jauh hari sehingga peserta diharapkan sejenak melupakan pekerjaan maupun kesibukan lain dan benar-benar hadir untuk bermain sekaligus menemukan makna dari setiap permainan.

Keceriaan pecah ketika peserta memasuki rangkaian fun game. Warga belajar dibagi menjadi tiga kelompok dengan nama Monyet, Sapi dan Buaya. Masing-masing kelompok kemudian membuat yel-yel yang membangun semangat dan identitas kelompok. Permainan berlanjut dengan tantangan memindahkan kelereng dalam posisi membentuk lingkaran sambil bergandengan tangan dan saling membelakangi. Tantangan berikutnya tidak kalah seru, yakni mencari bola sebanyak-banyaknya. Peserta berbaris sambil memegang pundak teman di depannya dengan mata tertutup, sementara peserta paling depan menggunakan kerucut berlubang kecil untuk membantu melihat arah bola. Permainan tersebut memaksa peserta mengandalkan komunikasi dan kepercayaan terhadap anggota kelompok.

Tantangan semakin meningkat ketika peserta memainkan permainan memindahkan selang atau paralon kecil menggunakan jari telunjuk yang harus tetap sejajar. Permainan sederhana itu ternyata membutuhkan konsentrasi tinggi, kesabaran dan langkah yang seirama. Memasuki high impact game, peserta menghadapi estafet tepung menggunakan sendok kertas yang digigit dengan mulut, kemudian dilanjutkan permainan paralon bocor. Tawa, sorakan dan semangat saling menyemangati terdengar sepanjang permainan. Namun di balik keseruannya, peserta perlahan menemukan bahwa sebuah permainan dapat menjadi cermin kehidupan: tujuan bersama tidak akan mudah dicapai jika setiap orang berjalan dengan cara masing-masing tanpa komunikasi, strategi dan komitmen.

Pada sesi refleksi, pelatih outbound mengajak warga belajar membongkar “rahasia” di balik keberhasilan setiap permainan. Auny menyampaikan bahwa “dibutuhkan konsentrasi, kesabaran, kekompakan dan strategi dalam memenangkan permainan di setiap game yang dimainkan.” Jibran menilai bahwa diperlukan satu komando agar arahan dapat dijalankan secara kompak. Nichole menambahkan pentingnya kesabaran dan pantang menyerah hingga permainan selesai meskipun tubuh mulai lelah. Sementara Amirah menekankan dua hal penting, yakni satu komando dan strategi. Dari seluruh permainan dan perolehan skor, Kelompok Monyet berhasil meraih juara pertama, disusul Kelompok Buaya sebagai juara kedua dan Kelompok Sapi sebagai juara ketiga.

Pelatih kemudian mengajak peserta membawa pelajaran tersebut keluar dari arena permainan. Dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam perjalanan menyelesaikan pendidikan, warga belajar membutuhkan kerja tim, kekompakan, komitmen, kepedulian, strategi dan sikap pantang menyerah. Kesibukan pekerjaan dan kehidupan masing-masing tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti belajar. Justru kesempatan mengikuti pendidikan kesetaraan perlu dijaga dan diperjuangkan. Permainan paralon bocor bahkan menjadi refleksi yang lebih dalam: dalam dunia kerja maupun komunitas, seseorang mungkin bertemu dengan orang yang kurang peduli atau tidak memberikan dukungan. Namun, peserta diajak tidak kehilangan fokus terhadap tanggung jawab dan tujuan yang hendak dicapai. Tetap bekerja dengan baik, menjaga komitmen dan memberikan energi positif diyakini dapat menjadi kekuatan yang pada akhirnya ikut memengaruhi lingkungan di sekitarnya.

Outbound di Tanaka Waterfall akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda rekreasi. Ia menjadi gambaran kecil tentang perjalanan hidup warga belajar PKBM Lentera Nusantara: ada tantangan, ada rasa lelah, ada perbedaan karakter, tetapi tujuan akan lebih mudah dicapai ketika setiap orang mau bekerja sama dan tidak mudah menyerah. Bagi masyarakat yang selama ini masih ragu melanjutkan pendidikan melalui jalur nonformal, kegiatan ini memperlihatkan bahwa belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas dan di balik buku. Belajar bisa hadir melalui pengalaman, persahabatan, permainan dan refleksi kehidupan. Pendidikan nonformal membuka ruang bagi mereka yang tetap ingin tumbuh di tengah kesibukan. Karena itu, semangat yang lahir dari Tanaka Waterfall menjadi pesan sederhana: kesempatan untuk belajar jangan ditunda—ketika kesempatan itu datang, beranilah melangkah, bertumbuh dan menuntaskan pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *