G
N
I
D
A
O
L

Tasyakuran Kemerdekaan ke-81, PKBM Lentera Nusantara Padukan Literasi, Pembelajaran dan Doa Bersama

Malang, 9 Agustus 2026 — Semangat memperingati 81 tahun kemerdekaan Indonesia terasa hangat di PKBM Lentera Nusantara. Bukan sekadar seremoni, peringatan kemerdekaan dikemas dalam rangkaian kegiatan yang memadukan literasi, pembelajaran di kelas, refleksi kebangsaan, doa bersama, serta kebersamaan antarwarga belajar. Kegiatan diawali dengan budaya membaca buku selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Warga belajar diberi kebebasan memilih bacaan sesuai minatnya, mulai dari sejarah, pendidikan kewarganegaraan, Bahasa Inggris, ekonomi, Bahasa Indonesia, seni budaya, hingga berbagai bacaan pengetahuan lainnya. Aktivitas sederhana ini menjadi bagian dari upaya PKBM menumbuhkan budaya literasi sekaligus menghidupkan semangat belajar.

Setelah kegiatan literasi, proses belajar mengajar tetap berlangsung sebagaimana jadwal. Tepat pukul 14.00 WIB, warga belajar mengikuti pembelajaran Bahasa Inggris yang diampu oleh Tutor Fidayah, S.Pd. hingga pukul 15.30 WIB. Suasana belajar berjalan seperti biasa, namun momentum peringatan kemerdekaan memberikan warna tersendiri. Bagi PKBM Lentera Nusantara, kemerdekaan tidak hanya diperingati melalui upacara atau perayaan, tetapi juga melalui kesempatan bagi setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan dan terus mengembangkan diri.

Usai pembelajaran, kegiatan dilanjutkan dengan Tasyakuran Kemerdekaan. Acara dibuka oleh Khoirul Anwar yang menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan, kemudian dilanjutkan sambutan Kepala PKBM Lentera Nusantara, Dwi Rana Nabillah, S.S. Dalam sambutannya, Bu Dwi, sapaan akrabnya, mengajak warga belajar memahami arti menjadi warga negara Indonesia yang baik. Salah satunya adalah dengan menaati peraturan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis dalam kehidupan bermasyarakat. Menariknya, sambutan tersebut juga diselingi pertanyaan kepada warga belajar sebagai refleksi pembelajaran sejarah dan Pendidikan Kewarganegaraan. “Pada tanggal dan tahun berapa dasar negara kita, Pancasila, disahkan?” tanyanya. Pertanyaan tersebut menjadi cara sederhana untuk menghubungkan momentum kemerdekaan dengan pengetahuan yang telah dipelajari warga belajar di kelas.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Surat Yasin yang dipimpin oleh warga belajar, Djibran. Setelah itu, pembacaan Tahlil dan doa dipimpin oleh Khoirul Anwar. Doa bersama menjadi ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia sekaligus penghormatan kepada para pahlawan dan syuhada yang telah berjuang bagi bangsa. Setelah doa selesai, suasana berubah menjadi lebih santai dan penuh keakraban. Warga belajar, tutor, dan pengelola PKBM menikmati tumpeng bersama dengan konsep makan bersama menggunakan alas daun pisang yang disusun memanjang. Suasana kekeluargaan, canda, dan kebersamaan pun semakin terasa.

Bagi warga belajar, cara sederhana tersebut justru menghadirkan kesan yang mendalam. Diki, salah seorang warga belajar, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. “Saya cukup senang dengan acara ini, Pak. Bisa berdoa bersama sebagai wujud syukur atas kemerdekaan Bangsa Indonesia dan terima kasih atas jasa para pahlawan dan syuhada yang memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajah,” ungkapnya. Ia juga mengaku terkesan dengan acara makan bersama menggunakan daun pisang karena mengingatkan pengalaman masa kecil di masjid atau musalla saat makan “kroyokan” atau “lengseran”. Tasyakuran Kemerdekaan ke-81 di PKBM Lentera Nusantara akhirnya bukan hanya menjadi kegiatan peringatan, tetapi juga menjadi ruang belajar tentang sejarah, kebangsaan, rasa syukur, gotong royong, dan arti sebuah keluarga besar dalam pendidikan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *